Menjadi Seniman di Tahun Baru, Prince Claus, dan Potensi yang Teronggok Dingin
Apa itu ‘menjadi seniman’?
Terma itu menghantuiku belakangan. Seluruh website ini, kata-kata di bio-ku yang terasa kosong, foto pRinCe cLaUse sEed aWArd yang menatapku tiap membuka profil instagram, meminta akuntabilitas dari 5000 euro dan sorotan institusi global utara yang mungkin lebih berhak diterima seniman lain.
Menjadi seniman adalah sobat karib yang pesannya enggan kubalas. Sosok yang menjadi alasan mematikan status terakhir dilihat. Tak membalas kau sungkan, membalas pun sungkan karena telah kau tinggal begitu lama. Pertanyaan “kapan lanjut S2?” dari orang-orang dewasa yang pernah percaya kepadaku bak pesan dari penagih pinjol. Mengingatkanku atas utang-utang yang belum dibayar, mungkin yang belum jadi, potensi yang menjelang basi.
Enam belas bulan berlalu sejak gelar kesenian itu duduk manis di instagram. Membalas kawan hidup yang menyarankan untuk berselancar di atas momentum dan berkarya, kubilang akan kucoba sebisa mungkin di tengah mengejar kelulusan.
Tujuh bulan berlalu setelah pelemparan toga yang sepi. Undangan tak kukirim pada sebarang teman. Ibu kuminta tak terbang ke pulau Jawa atas dasar optimisme bahwa kelulusan ini hanyalah awal dari kelulusan-kelulusan lain yang akan datang. Namun bulan demi bulan, draf ide karya hanya menumpuk. Sketsa menggunung dan berdebu. Dummy tersebar, setengah selesai, menanti hari melihat pagi.
Menjadi seniman semakin kutakuti belakangan dalam ritual menulis buku harian. Lewat refleksi bulananku, skor ‘2’ dalam kategori ‘art and research’ membuatku melamun. Pasalnya, beberapa bulan belakangan ini diisi dengan membuat silabus kelas Bahasa Inggris, slide pelajaran, mengecek hasil mock test, merancang postingan instagram sebulan ke depan, mendesain carousel dengan canva, merekam video bahan ajar, menginput kuis, membuat flash card, dan mengontak orang yang sempat tertarik belajar Bahasa Inggris. Bukan menjadi seniman, aku sibuk merangkap tutor Bahasa Inggris, desainer, staf marketing, desainer produk, editor video, perancang silabus, dan admin. Jemari tak berhenti mengetik di depan layar, digerakkan semangat–atau tekanan–untuk membangun ‘basis ekonomi penyambung kehidupan’.
Terngiang berkali-kali di kepalaku, Jangan hidup dari kesenian, tapi hidupilah seni. Kalimat jitu seorang seniman senior yang jadi bukti hidup: bahwa jadi seniman berbasis riset yang tak hanya punya atap untuk bernaung tapi juga studio, bisa ngopi enak sekali-sekali, dan travel sana-sini sewaktu tua adalah sebuah kemungkinan.
Ah… Apa kabar seniman yang hidup dari kesenian belum, menghidupi seni belum mampu. Mengenakan kacamata kuda untuk bekerja dan bertahan hidup, juga tuntutan untuk menciptakan kArYA sEnI yang sejalan dengan eksplorasi dan tema sebelumnya, yang ‘serius’, ‘bergagasan’, membicarakan ‘belonging’ dan ‘sejarah’ dan ‘yang personal dan politis’, membuat kuas seberat barbel. Belakangan, menggores kuas untuk melukis ikan dan kupu-kupu lucu untuk ditempel ke buku harian saja sulitnya setengah mati.
Goresan semacam apa yang akan kubuat? Warna apa yang kupakai? Gaya macam apa? Apakah ini sesuai dengan gaya khasku? Apa gaya khasku? Apa yang ada dalam karyaku yang membuatnya menjadi karyaKU? Bukan semata gagasan, tetapi secara estetis. Kalau bukan membicarakan Tionghoa atau belonging, tapi melukis ikan, dan ikan ini kupajang di dinding, apakah ada yang tahu itu ikan Nessa Theo? Ups, sudah jam 5, saatnya buka ruang Zoom.
Skor ‘2’ itu berkali-kali mengingatkanku pada pertanyaan seorang ‘pengamat seni’. Kapan pameran tunggal? Ia adalah penanda keseriusan seniman. Gong. Marking. Melihat angka ‘2’ itu lagi dan lagi, kutulis di daftar resolusi tahun baruku: Solo Exhibition! Priority: High.
Sampai suatu hari aku berhenti dan bertanya. Untuk apa? Apa alasan aku ingin pameran tunggal? Apa alasannya aku dihantui menjadi seniman? Semata melunasi hutang kepercayaan orang yang pernah terpukau dan menaruh harapan? Memungut potensi yang dingin teronggok dan menunjukkan pada Nessa kecil bahwa ia bisa menjadi apa yang ia pernah impikan? Menghadapi rasa bersalah yang menyelinap, berbisik lagi dan lagi bahwa ada seniman yang menghidupi jiwa ketoknya di luar sana, yang mungkin lebih berhak memperoleh seonggok Euro? Membuktikan kepada mereka-mereka yang mempertanyakan pilihan hidup untuk meriset dan berkesenian?
Maka kutulis di vision board tahunanku: aku ingin berkarya karena keinginan yang dari dalam, bukan dari luar. Aku ingin kekaryaanku digerakkan oleh keingintahuan, kepercayaan pada praktik alternatif dan bentuk nyata dari praksis. Tampaknya, ia sejalan dengan keputusanku untuk menyibukkan diri membangun penghidupan di luar kesenian, membangun hidup di mana kakiku berdiri dalam dua kolam.
Lagipula, 2025 mengajarkanku bahwa melakukan kerja artistik demi menyuapi mulut membuat kerja tersebut kering tanpa kebahagiaan. Bukannya membuat karya atau tulisan yang benar kurasa penting, kemampuanku menggores pena dan mencari sumber primer sebatas motor penggerak mesin besar. Mesin yang kadang kupertanyakan visinya.
Semakin lama aku semakin percaya bahwa, setidaknya untukku, hidup dari luar kesenian dan membiarkan seni dan riset sebagai ruang bereksperimen, mempertanyakan dan mengujicobakan sistem, serta mobilizing hearts and minds, kalau kata Max Haiven dan Sarah Stein Lubrano, adalah model yang ideal. Sejauh ini, kesenian yang sesuai dengan idealisme belum membayar tagihan, kunjungannya tak menentu. Sementara mencari ruang berjaring-pengaman sering kali meminta kompromi dalam keyakinan atas apa yang jadi sumber permasalahan dunia, juga pemahaman atas siapa kita dan apa yang perlu kita lakukan untuk mengubah dunia. Basis ekonomi untuk tetap hidup, pada akhirnya, adalah salah satu faktor kunci yang memungkinkan karya-karya kritis untuk hadir. Yang tak perlu takut hilangnya funding, restu dari patron, karena bentrokan ukuran estetis ataupun nilai.
Namun tak bisa kupungkiri, ruang di antara ini rupanya berat secara eksistensial. Membangun sesuatu agar tidak hidup dari seni, menemukan waktu, energi, uang, dan keberanian untuk menghidupi seni–bukan hanya menggores kuas, mengimajinasikan bentuk, membuat sketsa, tapi juga membayangkan dunia yang lebih adil dan mengorganisir hati dan pikiran dengannya, begitu berat adanya.
Mungkin selagi belum mampu menghidupi seni dan berkarya, mencatat proses di antara kekaryaan alih-alih proses kekaryaan bisa melipur sementara.